Perkenalkan nama saya
Ronal Adi Saputra saya biasa dipanggil Ronal, saya lahir tanggal 3 Juli 1994,
Suku asli saya Toraja namun saat ini saya tinggal di Kalimantan Utara bersama
keluarga, saat ini sedang mengikuti program Diploma 1 di Institut Teknologi Bandung
selama dua Minggu, disini kami dibimbing dan diberi pengarahan oleh Bapak
Stenley dan juga dilatih cara berwirausaha yang benar selama dua hari, dan itu
luar biasa bangat walaupun waktu pertama kali liat beliau itu saya sempat
gemetar, gugup dan penuh rasa takut namun tak seperti yang dibayangkan ternyata
Beliau adalah seseorang yang luar biasa.
Dihari pertama ini
kami dikumpul lalu berbaris kemudian diberi kain biru yang harus diikat di
kepala sebagai tanda mahasiswa baru yang sedang melakukan Orientasi. Jumlah peserta
yang mengikuti Orientasi ini sebanyak 74 orang, ada dari Banten, Bandung, Sunda
dan juga dari Tanjung Selor (Kalimantan Utara) termasuk saya. kami dibagi
menjadi 4 kelompok dimana masing masing kelompok diberi nama KERBAU, HARIMAU,
KUDA & MATAHARI dan saya masuk di kelompok Matahari.
saya sempat bertanya
tanya dalam hati “ini maksudnya apa kok kelompok di beri nama kerbaulah,
harimaulah, kudalah, mataharilah aneh rasanya gitu. Ternyata semuanya mamiliki
makna yang luar biasa, saya sendiri merasa sangat beruntung bisa masuk dalam
kelompok matahari ini karna matahari ini adalah pembawah berkah bagi semua
orang, dan saya ingin sekali jadi Matahari agar membawa berkah bagi orang lain.
Setelah dibagi berkelompok,
kami mulai masuk ruangan dan mulai diberi arahan serta dilatih berfikir secara
logika dengan cara tes IQ, pertanyaan ini diberikan kepada semua kelompok
termasuk anggota kelompok bagi kelompok
yang bisa menjawab maka kelompok tersebut berhak mendapat bintang dan bintang
tersebut dikumpul di tempel di tempat yang disediakan di masing masing kelompok.
Setelah mendapat
bimbingan dan pengarahan serta cara berwirausaha kamipun di beri tugas selama
satu jam untuk mempraktekkan langsung cara berwirausaha yang benar. Dalam hal
ini masing masing kelompok di beri 4 buku dan masing masing peserta Orientasi
diberi 2 buah pulpen untuk dijual sebagai latihan dasar berwirausaha, modal
pulpen itu adalah 2.000 dan buku 75.000. kami disuruh jual pulpen dan buku itu
setinggih mungkin harganya. Kemudian uang hasil jual produk tersebut hanya
modal yang diberikan ke panitia dan sisanya untuk kita semua.
Hal yang pertama
kurasakan saat mempromosikan produk adalah maluh dan takut ditolak karna
berhadapan dan berkomunikasi dengan orang yang baru dikenal namun perlahan
lahan rasa malu dan rasa takut pun kulawan dengan mencoba menawarkan produk
kepada beberapa orang dan alhasil dari sekian banyak orang yang kutawarkan
produk, ada salah satu dari mereka yang mau membeli meskipun dengan harga yang
murah namun setidaknya saya merasa puas
karna rasa takut dan rasa malu yang tadiknya begitu besar kini perlahan mulai
sirna.
Setelah kembali
keruangan kami menghitung semua hasil penjualan di kelompok kami lalu kami
kumpulkan dan hasilnya lumayan bisa mencapai 350.000 sunggu tak terduga pulpen
yang modalnya hanya 2.000 ada yang mau membeli hingga 100.000 ini benar benar
luar biasa saya sangat kaget dengan hal ini.
Dihari kedua kami
kembali berkumpul di lapangan untuk sejenak olahraga melatih syaraf syaraf tubuh,
setelah itu ngumpul lagi di ruangan dan mendengarkan arahan kemudian kembali lagi menjual sisa produk
yang belum laku kemarin. Selain jual sisa produk yang belum laku masing masing
kelompok mendapatkan tambahan berupa pulpen dengan harga yang sama namun beda
produk.
Saat mulai menawarkan
produk banyak sekali yang menolak, mereka keget dengan harga yang kita tawarkan
padahal sebelumnya saya uda jelaskan bahwa kami sedang mengikuti pelatihan
berwirausaha di ITB dengan menjual produk ini dan saya juga uda jelaskan bahwa
hasil dari penjualan ini bukan untuk saya melainkan untuk membantu teman teman
kita yang kurang mampu tapi apa tanggapannya??? Bapak itu mengatakan “Kamu ini
malu maluin saja” Huuufftt rasanya sakit sekali dengar omongan bapak itu namun saya
mencoba untuk menahan emosi, dan hanya bisa tersenyum walaupun dalam hati
terasa PANAS. Dengar omongan bapak yang bikin panas itu saya tidak menyerah
saya terus mencoba menwarkan produk ke orang lain tapi apa hasilnya? saya
kembali mendapat orang yang membuat saya naik darah, saat itu saya menawarkan
produk yang saya jual ke salah seorang bapak yang sedang duduk santai, “permisi
pak saya Mahasiswa baru dari ITB yang saat ini lagi mengikuti Latihan dasar
berwirausaha, ini saya membawa pil tapi isinya pulpen, belum selesai saya
menawarkan produk itu Bapak itu malah memotong pembicaraan saya lalu mengatakan
“Kau Fikir aku ini Bapakmu apa?” kemudian bapak itu langsung pergi. Huuuftt
Betul betul menusuk jantung, rasanya sakit sekali, dalam hatiku berbicara seandainya
Bapak dikampung saya Uda Tak Tapok Kepala Bapak tapi untung lah disini...
Waktu yang diberikan
untuk menjual produk udah hampir habis namun tak ada 1 pun produk yang berhasil
saya jual, lalu saya berusaha mencari dan ternyata ada satu orang yang mau
membeli produk saya meskipun harga murah tapi yah lumayan lah ada modal dan ada
juga untung.
Waktu untuk jual
produk selesai kini saatnya masing masing kelompok harus berkumpul dan
menghitung hasil penjualan anggota kelompok tersebut dan alhasil kelomok saya
ada peningkatan yang kemarin hanya dapat 300.000 lebih kini mencapai 400.000
benar benar luar biasa meskipun kalah pendapatan dari kelompok lain namun saya
merasa bangga karna mendapatkan pengalaman yang paling berharga yang mungkin
seumur hidup tak akan hilang dari ingatanku, ditolak berkali kali bahkan
berpuluan kali itu uda saya alami dan mungkin ini momen yang paling pahit namun
juga jadi Pembangkit hidup saya sekaligus jadi pelajaran yang luar biasa dalam
hidup ku.
Setelah menghitung
hasil penjualan masing masing kelompok, semuanya dikumpulkan berdasarkan
kelompok lalu mendengar arahan dari Pak Gatot Selaku penyelenggara Program D1
ini, saya terkesan dengan beliau yang berkali kali keluar negeri bahkan
keliling dimuka bumi “dalam hati saya berkata benar benar luar biasa, akan kah
suatu saat nanti saya bisa seperti beliau?” ini adalah mimpi saya jika saya
tidak bisa seperti Pak Gatot yang bisa kemana saja setidaknya saya bisa
menginjak satu tanah negara orang lain meskipun hanya satu negara, dan saya
yakin saya pasti bisaaaaaaaaa !
Setelah selesai memberi arahan kami kembali bermain kali
ini seru bangat mulai dari bermain sarang labah, kelereng dimasukin dalam pipa
kecil menggunakan belahan bambu, masukin bola kecil kedalam ember menggunakan dua
utas tali, bernyanyi sambil main gitar uuuuhhhhhhh ini luar biasa bangat,
sangat sangat luar biasa, selain itu juga momen yang tak kalah seru juga bisa
foto bareng dengan Pak Staenly, Pak Gatot dan juga sama panitianya yang telah
mendukung berjalannya program ini.. Terima Kasih

Tidak ada komentar:
Posting Komentar